Esvandiari Sant (Pemenang #SayembaraIHG)

Sudah lama saya tidak tertarik menonton film bioskop karena berbagai alasan, tapi karena animo THG (singkatan: The Hunger Games) yg begitu ramai, saya penasaran juga. Tapi, sebelum melaksanakan hal itu, saya memilih untuk membaca serinya dulu. Kebetulan setelah mendapatkan Mockingjay bertanda tangan Mbak Hetih dari sebuah kuis, saya berhasil mendapatkan THG dan Catching Fire dengan harga miring, melalui kuis juga.

Oke, baca bukunya bikin saya niat banget untuk nonton film THG dan saya tidak menyesal melakukannya! Benar juga kata beberapa kritikus kalau film THG ini merupakan salah satu film adaptasi terbaik yang pernah ada. Saya pun mengakuinya. Saya tidak kenal semua aktornya, tidak kenal siapa sutradaranya, dan lebih tepatnya, saya tidak peduli. Saya hanya berharap akan mendapat suguhan yang menarik dan ternyata itu terwujud. Rasanya masih tidak percaya melihat Katniss, Peeta, Gale, Haymitch, juga Rue bergerak dan beraksi di Panem. Boleh dibilang sampai sekarang saya tidak ingat siapa nama pemerannya, tapi sosok mereka dalam film THG selalu terekam kuat di kepala.

Jujur, apa  yang saya bayangkan saat membaca bukunya jauh sekali dengan perwujudannya di film. Saya jadi terkagum-kagum sendiri melihat Capitol, Arena, Cornucopia, juga… adegan-adegannya yang lumayan membuat saya merinding dan bersyukur tidak terjun ke Arena. Saya seakan-akan menjadi rakyat Capitol yang menyaksikan sendiri kejadian demi kejadian yang dialami para peserta THG. Saya ikut memekik saat Katniss harus berjuang menyelamatkan dirinya, menahan napas saat Peeta yang terluka ditemukan, dan mendesah lega melihat adegan Katniss dan Peeta di gua.

Katniss, Peeta, Gale, juga sederet karakter lain di buku juga sangat berbeda dengan yang saya bayangkan. Tapi saya tidak merasa terganggu selama menonton film ini. Itu berarti Lawrence, Hutcherson, Hemsworth, dan semuanya (termasuk Lenny Kravitz!!) berhasil memerankan bagiannya dengan sangat gemilang.

Sebetulnya THG itu apa, sih? Saya yakin sebagian penonton belum pernah membaca novel THG saat menonton film ini. Dan saya yakin mereka tidak perlu bertanya-tanya ‘mengapa begini, mengapa begitu’ karena Gary Ross berhasil menerjemahkan naskah yang ditulis sendiri oleh Collins, dibantu dengan Billy Ray, dengan gamblang. Tentu saja ada beberapa ‘lubang’, tapi itu tidak akan mengganggu keseluruhan cerita. Walaupun didukung oleh efek khusus yang cukup canggih, saya merasa masih ada yang kurang. Atau mungkin ini hanya kekecewaan saya yang melihat gaun terbakar Katniss ternyata hanyalah ‘gaun biasa’ dan tidak seheboh yang saya bayangkan. Begitu juga dengan para mutt. Kesannya serba tanggung. Saya menangis saat Rue meninggal. Dengan menonton film ini dan membaca novelnya, saya menangis dua kali.

Dengan nilai 8/10, saya harus mengoleksi DVD THG.

-Esvandiari Sant, Ilustrator-

(Pemenang #SayembaraIHG)

(Twitter: @Esvandiarisant)

One response »

  1. […] Trilogi The Hunger Games)RATNA DEWI (Copywriter Megindo (Cinemags, Kiddo, dll))ESVANDIARI SANT (Pemenang #SayembaraIHG))DIENDA AYU (Non-Fans)KUMPULAN QUOTE REVIEW #SAYEMBARAIHGBOOKS (IN BAHASA)The […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s