Ratna Dewi (@VeryLuckyLady88)

Jujur saja, ketika pertama kali saya menonton “The Hunger Games”, I was lost. Saya tidak tahu kenapa mimik muka Katniss (Jennifer Lawrence) selalu datar dan uptight, kenapa adegan kekerasannya tidak lebih banyak, atau apa arti adegan pelemparan roti yang dilakukan oleh Peeta (Josh Hutcherson) ke arah Katniss di adegan flashback hujan-hujanan yang beberapa kali diselipkan di beberapa adegan.

Saya juga agak kecewa dengan fakta bahwa sutradara Gary Ross hanya memfokuskan film ini kepada dinamika hubungan Katniss-Peeta saja dan tidak memberikan detil ataupun kisah mengenai (setidaknya) Cato-Clove atau karakter lain, selain si pemeran utama. Belum lagi kemiripan tema film ini dengan “Battle Royale”, sebuah film berbahasa Jepang besutan sutradara Kinji Fukasaku yang sama-sama menceritakan tentang sekelompok remaja yang dikumpulkan dalam sebuah ‘arena’ untuk kemudian saling bunuh dan keluar sebagai pemenang.

Pendek kata, ketika saya meninggalkan bioskop, ada sejuta tanda tanya yang berputar-putar di kepala saya. Karena jika ditilik dari kacamata seseorang yang sama sekali belum familiar dengan Panem universe, film ini menyisakan terlalu banyak plot hole, dimana hanya mereka yang sudah membaca novelnya saja, yang bisa mengerti dan mengikuti dinamika yang terjadi diantara para karakternya.

Saya lalu mengecek pendapat para kritikus film dunia dan menemukan to my surprise! Bahwa mereka menyukainya. Para kritikus di Rotten Tomatoes memberi skor 85% dengan rata-rata rating 7.2/10. Di IMDb, film ini mendapat skor 7.6/10. Angka-angka tersebut membuat saya bertanya, “What did I miss?”

Akhirnya saya memutuskan untuk membaca novel “The Hunger Games” karya Suzanne Collins yang dijadikan dasar pembuatan versi filmnya. Mungkin setelah membaca novelnya, I’ll finally get what all the fuss is about. Dan ternyata dugaan saya benar, hanya setelah saya membaca novelnya saya jadi tahu dan mengerti apa yang membuat Katniss bertampang dan berperilaku demikian. Begitu pula dengan Peeta. Sayapun akhirnya tahu apa makna dibalik adegan flashback pelemparan roti yang membingungkan itu.

Saya juga menemukan fakta bahwa Gary Ross hanya mengikuti apa yang telah dituliskan oleh Suzanne Collins, dengan tidak mengekspos lebih jauh mengenai latar belakang ataupun kisah karakter lain seperti Cato dan Clove. Meski pada akhirnya Ross memperkaya karakter Cato dengan menunjukkan emosi terdalam tribute dari District 2 tersebut ketika ia berada di atas Cornucopia bersama Katniss dan Peeta at the end of the movie.

Tentu saja, sama seperti film adaptasi lain yang diangkat dari sebuah novel, Ross juga melakukan beberapa perubahan yang dirasa perlu untuk menggambarkan “The Hunger Games” menjadi sebuah film utuh dengan multidimensi, dari sebuah novel yang digambarkan hanya lewat satu sudut pandang saja (Katniss). Sebagai contoh,  di versi novelnya, pin Mockingjay merupakan milik Madge si anak Walikota, sementara di versi filmnya, pin tersebut didapat dari salah satu pedagang (I’m guessing Greasy Sae) di Hob tempat ia biasa menjual hasil buruannya. Atau ketika Ross membuat sebuah setting super futuristik dimana sang Gamekeeper beraksi, lengkap dengan holographic table panel yang mengontrol arena Hunger Games.

Dengan membaca bukunya, saya pun akhirnya mengerti bahwa “The Hunger Games” bukanlah “Battle Royale”. Kemiripan mereka berhenti di temanya saja, karena setelah membaca ketiga bukunya, “The Hunger Games” lebih merupakan sebuah awal dari perang revolusi ala Panem, ketimbang a simple kids killing each other in the fields kind of story.

Dengan semua informasi baru yang saya dapat dari membaca novel “The Hunger Games” sayapun memutuskan untuk menonton kembali versi filmnya. Dan ya, berbekal semua informasi tersebut, saya jadi bisa lebih menikmati film “The Hunger Games”. Dinamika karakternya, penggambaran Capitol dan District 12, hutan, arena, dan bahkan Effie Trinket. Semuanya tampak lebih hidup, baik di benak saya, ataupun di layar lebar. I fell in love with the movie, I was once puzzled.

Sebelum saya membaca novelnya, I’d give this movie a 6/10 –karena dimata seseorang yang sama sekali buta dengan Panem universe, film ini lebih menyisakan banyak tanya, ketimbang pesona. Namun setelah saya membaca novelnya, saya bisa katakan kalau adaptasi ini berhak atas skor 8/10 –karena keberhasilan Ross menginkorporasikan banyak hal yang tak ada di dalam novelnya, menjadi satu kesatuan yang memperkaya pengalaman penonton (yang sudah membaca novelnya) untuk menikmati Panem universe.

So, yeah… read the book first, and then watch the movie.

-Ratna Dewi, Copywriter Megindo (Cinemags, Animonstar, GameStation, Kiddo, Gadget+)-

(Twitter: @VeryLuckyLady88)

 

2 responses »

  1. […] HomeMOVIE REVIEWTHE HUNGER GAMESHETIH RUSLI (Penerjemah Trilogi The Hunger Games)RATNA DEWI (Copywriter Megindo (Cinemags, Kiddo, dll))ESVANDIARI SANT (Pemenang #SayembaraIHG))DIENDA AYU (Non-Fans)KUMPULAN QUOTE […]

  2. Yoses Rivano Bakara says:

    bener kalau gak baca bukunya emang agak bingun btw itu gamemaker bukan gamekeeper🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s